metamorfosis.

aku menggeliat pelan dalam tidurku. masih bisa kulihat badan gemukku yang sedang mengalami perubahan sedikit demi sedikit. masih dengan jelas kuingat beberapa minggu lalu ucapan setiap orang yang melihatku akan berkata,”ih, liat deh. badannya jelek. ngeri ah liatnya.”. saat itu aku hanya bisa diam dan menangis tertahan, sebegitu buruknya kah aku? hingga orang-orang akan menghindariku setiap melihatku. namun, aku percaya, kesedihan tidak akan berjalan selamanya.


kemudian, beberapa hari lalu, proses perubahan itu dating. sudah saatnya bagiku untuk menjadi indah. sudah waktunya kesedihanku akan berlalu. namun, untuk menjadi indah tentu saja aku harus berkorban. membungkus diriku dalam ruang yang sempit ini dan menahan rasa laparku beberapa waktu. beauty is pain, begitu kata orang-orang. aku tidak hanya mengharapkan kecantikanku. aku hanya ingin mendengar,”hei, lihatlah dia. cantik sekali ya. aku ingin menangkapnya dan membawanya pulang ke rumah”. ya, aku hanya ingin punya teman. aku hanya harus menunggu dan bersabar hingga saatnya tiba. saat aku siap untuk menantang dunia dengan kepak sayap ku yang indah. saat aku siap mengelilingi dunia sambil berkata, “hai dunia, aku lah sang kupu-kupu cantik. bukan lagi si ulat buruk rupa.”

hide and seek. dahulu dan kini.

hide and seek. permainan sederhana yang biasa dimainkan anak-anak kecil di sore hari. mereka bergantian berjaga untuk mencari dan sebagian lainnya berlarian mencari tempat persembunyian terbaik. apabila salah seorang ditemukan maka pihak berjaga akan bersorak gembira dan yang bersembunyi akan mengeluh kecewa. namun, permainan akan dilanjutkan kembali tanpa ada rasa dendam sedikitpun.

hide and seek. permainan yang juga akan dimainkan saat dewasa. ada satu kala kita menjadi pihak yang berjaga, namun tidak jarang menjadi pihak yang bersembunyi. kita akan berjaga dan beruasha menemukan jati diri, mimpi, dan cita-cita yang mungkin masih "bersembunyi" entah dimana. dan kita juga akan bersembunyi dari masalah, keputusasaan, dan rasa takut dengan berkedok kemandirian. "aku sudah dewasa", hanya kalimat itu yang menjadi tempat persembunyian terbaik kita. yang apabila masalah berhasil menemukan kita, mungkin kita akan merasa sedikit kecewa. namun, permainan harus tetap dilanjutkan. saatnya kita untuk berjaga dan mencari mimpi baru setelah itu. tanpa rasa dendam dan kecewa sedikitpun. sama seperti permainan petak umpet di kala kita masih anak-anak.

jejak langkah sepatu kelabu

terlihat sebentuk sepatu kelabu di sudut ruang. cukup buluk untuk dikatakan sebagai sepatu. bentuk dan rupanya cukup menggambarkan ribuan langkah bersama sang pemilik. kota demi kota, waktu demi waktu, jejak demi jejak.

ribuan cerita sudah terukir bersamanya. berlembar  cerita sudah tertulis didalamnya. puluhan sahabat telah bersua dengannya. namun, masih banyak sekotak mimpi dan cita yang akan terwujud di hadapannya. semoga.

serangkai cerita sosok di balik cermin

apa yang akan kulihat ketika melihat cermin? kurasa mungkin akan kujawab aku tidak melihat apapun. aku tidak akan melihat apapun selain saksi hidup untuk mimpi, cita-cita, serta rangkaian cerita selama 22 tahun kehidupanku.  aku mungkin juga bisa melihat sedikit kilasan harapan dari kedua orangtuaku di dalam cermin sana. harapan untuk buah hatinya agar bisa membanggakan beliau. mungkin juga aku akan melihat bagaimana rupa orang yang bisa membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum bahagia akan kehadirannya.

namun, bukan tidak mungkin juga saat kutatap cermin itu aku akan melihat kehilangan, keputusasaan, dan kesendirian. kehilangan harapan, keputusasaan meraih mimpi, dan kesendirian yang menguasai sepi. aku mungkin juga akan melihat kesedihan. kesedihan saat melihat kedua orangtuaku kecewa karenaku. mungkin aku akan melihat juga kemarahan. kemarahan saat membuat sedih orang-orang di sekitarnya. apapun itu, kurasa yang kulihat di balik cermin hanyalah aku. sosok itu.

Memilikimu

Saya mencintai sunset, 
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah, 
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya 
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.

(sumber: http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/memilikimu/530613533655886)